Fenomena Orang Berlomba Membangun Bangunan Tinggi

Fenomena Orang Berlomba Membangun Bangunan Tinggi

Perkembangan zaman menghadirkan banyak kemajuan dalam bidang teknologi dan arsitektur. Di berbagai penjuru dunia, gedung-gedung pencakar langit terus bermunculan dengan desain yang semakin megah dan biaya pembangunan yang fantastis. Fenomena orang berlomba membangun bangunan tinggi bukan lagi sekadar kebutuhan akan ruang, tetapi sering kali menjadi simbol kebanggaan, kekuasaan, dan prestise. Setiap negara ingin memiliki gedung tertinggi, setiap kota ingin dikenal melalui bangunan ikoniknya, bahkan tidak sedikit pengusaha yang berlomba menciptakan proyek paling megah demi menarik perhatian dunia.

Di balik kemajuan tersebut, Islam mengajarkan agar manusia tidak terlena oleh kemewahan dunia. Kemegahan bangunan pada dasarnya bukan sesuatu yang dilarang selama dibangun dengan cara yang halal dan dimanfaatkan untuk kebaikan. Akan tetapi, ketika niat berubah menjadi kesombongan dan ajang pamer, maka bangunan yang tinggi justru dapat menjadi sebab lahirnya sifat takabur. Karena itu, fenomena orang berlomba sering menjadi bahan renungan para ulama ketika melihat perubahan zaman yang semakin nyata.

Tanda Akhir Zaman yang Disebutkan Rasulullah ﷺ

Salah satu hadis yang sangat terkenal berkaitan dengan fenomena orang berlomba adalah hadis Jibril. Ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai tanda-tanda hari kiamat, beliau bersabda: “…Engkau akan melihat para penggembala kambing yang miskin dan bertelanjang kaki berlomba-lomba membangun bangunan tinggi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi perhatian para ulama karena kenyataannya semakin terlihat pada masa sekarang. Banyak daerah yang dahulu sederhana kini berubah menjadi pusat kota dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Bahkan, membangun bangunan tinggi telah menjadi kebanggaan yang diperebutkan oleh berbagai negara.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadis tersebut merupakan salah satu tanda kecil kiamat yang menunjukkan perubahan besar dalam kondisi manusia. Mereka yang dahulu hidup sederhana dapat berubah menjadi sangat kaya hingga berlomba membangun bangunan yang megah sebagai lambang kemuliaan dunia.

Namun, Rasulullah ﷺ tidak mencela pembangunan itu sendiri. Yang menjadi peringatan adalah ketika fenomena orang berlomba dilakukan karena kesombongan, persaingan yang tidak sehat, atau keinginan memperoleh pujian manusia. Pada saat itulah hati mulai lebih mencintai dunia daripada mempersiapkan bekal akhirat.

Allah SWT berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kebanggaan terhadap dunia dapat membuat manusia lupa terhadap kehidupan yang kekal.

Ketika Kemegahan Menjadi Ujian Hati

Tidak dapat dimungkiri bahwa membangun bangunan tinggi memiliki banyak manfaat apabila bertujuan memenuhi kebutuhan masyarakat, meningkatkan perekonomian, atau mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, ketika proyek-proyek besar hanya dijadikan sarana untuk saling menyombongkan diri, maka nilai ibadah di dalamnya mulai hilang.

Fenomena orang berlomba sering kali memperlihatkan bagaimana manusia rela menghabiskan harta dalam jumlah luar biasa demi mendapatkan pengakuan. Di sisi lain, masih banyak orang yang hidup dalam kemiskinan, kekurangan makanan, dan kesulitan memperoleh pendidikan. Perbandingan ini menghadirkan rasa haru sekaligus keprihatinan bagi siapa saja yang merenungkannya.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa kesombongan merupakan penyakit hati yang dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk melalui kemewahan yang dipamerkan. Oleh sebab itu, membangun bangunan tinggi hendaknya tetap disertai niat yang lurus dan rasa syukur kepada Allah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa hati yang dipenuhi kecintaan kepada dunia akan sulit merasakan manisnya ibadah. Nasihat ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan seorang mukmin bukanlah tingginya bangunan yang dimiliki, melainkan tingginya ketakwaan kepada Allah.

Bangunan Tinggi Tidak Menentukan Kemuliaan Seseorang

Fenomena orang berlomba membangun bangunan tinggi memang menjadi bagian dari perkembangan peradaban manusia. Islam tidak melarang kemajuan, kreativitas, maupun pembangunan yang membawa manfaat. Bahkan, membangun fasilitas yang digunakan untuk kepentingan masyarakat dapat menjadi amal jariyah apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas.

Namun, Rasulullah ﷺ juga mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh kemegahan dunia. Beliau bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Sebesar apa pun bangunan yang didirikan, semuanya akan ditinggalkan ketika ajal datang. Tidak ada satu pun gedung yang dapat menemani seseorang di alam kubur selain amal saleh yang pernah dikerjakannya.

Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan bahwa kecintaan berlebihan terhadap dunia merupakan salah satu akar dari banyaknya kerusakan hati. Karena itu, seorang muslim harus mampu membedakan antara memanfaatkan dunia sebagai sarana ibadah dan menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.

Allah SWT juga berfirman: “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Gedung-gedung megah, harta yang melimpah, dan segala bentuk kemewahan suatu hari akan musnah. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan tetap kekal di sisi Allah.

Fenomena orang berlomba membangun bangunan tinggi hendaknya menjadi pengingat agar setiap kemajuan peradaban selalu dibarengi dengan kemajuan akhlak dan keimanan. Membangun bangunan tinggi bukanlah kesalahan selama tidak melahirkan kesombongan, kedzaliman, atau sikap meremehkan orang lain. Sebab pada akhirnya, yang meninggikan derajat manusia bukanlah lantai gedung yang menjulang ke langit, melainkan ketakwaan, kejujuran, dan amal saleh yang terus mengalir hingga hari perhitungan tiba.

Bagikan:

Related Post