Mengapa Hari Ibu Begitu Spesial

Mengapa Hari Ibu Begitu Spesial

Setiap kali kita mendengar kata ibu, hati terasa hangat dan mata perlahan basah. Sosoknya adalah awal dari setiap kehidupan, cinta pertama bagi setiap anak, dan pelukan pertama yang menenangkan segala ketakutan. Namun, pertanyaan mendalam muncul Mengapa Hari Ibu Begitu Spesial hingga diperingati dan dirayakan dengan begitu penuh rasa haru di berbagai penjuru dunia, termasuk dalam pandangan Islam yang memuliakan kedudukan seorang ibu di atas segalanya?

Hari Ibu bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah simbol penghormatan, pengingat, sekaligus momen introspeksi bagi anak-anak untuk bertanya kepada dirinya sendiri: sudahkah aku benar-benar menghargai sosok yang melahirkanku, merawatku, dan mendoakanku setiap malam tanpa pamrih?

Islam, jauh sebelum dunia modern mengenal peringatan Hari Ibu, telah menempatkan ibu pada posisi yang begitu tinggi. Bahkan, cinta dan baktimu kepada ibu dapat menentukan seberapa besar rahmat Allah turun dalam hidupmu. Karena itu, memahami Mengapa Hari Ibu Begitu Spesial bukan hanya persoalan budaya, tetapi juga bagian dari akidah dan adab seorang muslim.

Mengapa Hari Ibu Begitu Spesial, Cinta Seorang Ibu

Tak ada cinta di dunia yang lebih tulus daripada cinta seorang ibu. Seorang ibu mencintai anaknya bahkan sebelum ia melihat wajahnya. Ia menanggung beratnya kehamilan, menahan sakit saat melahirkan, dan tetap tersenyum dalam lelahnya merawat buah hati. Ketika anak tertawa, ibu bahagia. Ketika anak terluka, hati ibu yang berdarah.

Allah SWT menggambarkan kasih sayang ibu sebagai refleksi kecil dari kasih sayang-Nya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah lebih penyayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya.”

Hadits ini menjadi bukti bahwa kasih sayang seorang ibu merupakan bentuk nyata dari kasih sayang Allah di dunia. Karena itu, Hari Ibu Begitu Spesial bukan hanya karena perannya dalam keluarga, tetapi juga karena melalui kasih ibu, manusia bisa memahami sedikit tentang sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim dari Tuhannya.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”
Beliau menjawab, “Ibumu.” Kemudian sahabat itu bertanya lagi, “Lalu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Sahabat itu bertanya lagi, “Lalu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Baru pada kali keempat beliau bersabda, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tiga kali pengulangan itu bukan tanpa makna. Ia menegaskan bahwa keutamaan seorang ibu dalam Islam begitu tinggi, hingga bakti kepada ibu menempati urutan pertama setelah beribadah kepada Allah. Maka, Mengapa Hari Ibu Begitu Spesial? Karena ia adalah hari yang seharusnya mengingatkan manusia bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.” (HR. An-Nasa’i, Ahmad, dan Ibnu Majah)

Ungkapan ini bukan sekadar kiasan. Ia adalah peringatan yang menggugah, bahwa siapa pun yang ingin masuk surga, hendaklah ia terlebih dahulu memuliakan ibunya.

Ibu dalam Kesulitan dan Pengorbanan

Namun, Mengapa Hari Ibu Begitu Spesial juga harus dilihat dari sisi lain yang menyentuh yaitu penderitaan dan pengorbanannya. Tak ada yang tahu seberapa dalam luka yang ibu sembunyikan di balik senyumnya. Ia menanggung lelah, lapar, sakit, bahkan penghinaan, hanya agar anaknya bisa hidup dengan layak.

Allah SWT berfirman: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Ayat ini menunjukkan bahwa perjuangan ibu dimulai jauh sebelum anak dilahirkan. Ia berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan, namun tak pernah menyesal. Setiap tetes darah dan air matanya menjadi saksi betapa besarnya kasih seorang ibu.

Ibnul Qayyim berkata, “Tidak ada cinta yang sebanding dengan cinta ibu, karena ia mencintaimu bukan karena ingin sesuatu darimu, tapi karena dirimu adalah bagian dari dirinya.”

Bila direnungkan, kalimat ini menggetarkan hati. Dalam dunia yang serba transaksional, cinta ibu adalah cinta yang paling murni — cinta tanpa syarat. Maka, Mengapa Hari Ibu Begitu Spesial? Karena di hari itu, kita diajak untuk menyadari sesuatu yang sering terlupakan: bahwa di balik keberhasilan dan kebahagiaan kita, ada doa seorang ibu yang tak pernah berhenti dipanjatkan di malam hari.

Hari Ibu Dalam Rasa Syukur

Setiap peringatan Hari Ibu membawa dua rasa yang saling bertentangan dengan rasa syukur dan penyesalan. Bagi yang masih memiliki ibu, ia menjadi hari penuh haru dan kebahagiaan. Namun bagi mereka yang sudah kehilangan, Hari Ibu Begitu Spesial karena menjadi momen rindu yang dalam.

Bagi seorang anak yang masih bisa memeluk ibunya, hari itu seharusnya menjadi pengingat untuk mencium tangan, meminta maaf, dan berterima kasih atas segalanya. Sebab tidak ada jaminan bahwa waktu akan memberimu kesempatan kedua. Sedangkan bagi yang sudah ditinggalkan, Hari Ibu menjadi ajang untuk berdoa, memohonkan ampunan, dan menyalurkan sedekah atas nama ibunya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.”

Hadits ini menjadi pengingat betapa besar makna doa anak bagi orang tua. Maka, setiap kali Hari Ibu datang, jangan sekadar memberi hadiah atau bunga, tetapi berikan sesuatu yang lebih abadi: doa.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis, “Salah satu bentuk bakti kepada orang tua setelah wafatnya adalah mendoakan mereka dengan sungguh-sungguh, sebagaimana dahulu mereka mendoakan kita tanpa kita minta.”

Maka, Mengapa Hari Ibu Begitu Spesial juga karena ia membuka ruang introspeksi sejauh mana kita telah menjadi anak yang berbakti, bukan hanya di depan mata ibu, tetapi juga setelah ia tiada.

Namun, di sisi lain, ada rasa penyesalan yang menusuk bagi mereka yang terlambat menyadari nilai seorang ibu. Banyak yang baru menangis di atas nisan, sementara saat hidupnya, mereka terlalu sibuk dengan dunia. Betapa sering seorang ibu menunggu telepon dari anaknya, tapi tak sempat diangkat. Betapa sering ia menahan rindu, tapi malu untuk meminta perhatian.

Kesempatan untuk membahagiakan ibu adalah ujian besar yang Allah titipkan dalam hidup manusia. Dan ketika kesempatan itu berlalu, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menyadari bahwa kita pernah memiliki surga di dunia, tapi kita abaikan.

Memandang Hari Ibu Melalui Lensa Islam

Islam tidak menetapkan tanggal khusus untuk merayakan Hari Ibu, karena dalam ajarannya, setiap hari adalah hari untuk berbakti. Namun, memahami Mengapa Hari Ibu Begitu Spesial dapat menjadi cara agar manusia tak lupa dengan amanah besar yang Allah berikan dalam urusan keluarga.

Syekh Yusuf Al-Qaradawi pernah berkata, “Tidak salah memperingati Hari Ibu selama tidak menyalahi syariat. Justru ia dapat menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat birrul walidain (berbakti kepada orang tua).”

Dengan demikian, Hari Ibu dalam pandangan Islam bukanlah perayaan seremonial semata, melainkan sarana untuk memperbarui niat dan tindakan nyata.

Berbakti kepada ibu bukan sekadar berkata lembut, tapi juga menafkahi, menjaga, dan menghormatinya dalam segala kondisi. Allah SWT berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (QS. Al-Isra’: 24)

Ayat ini mengajarkan bahwa bakti kepada ibu tidak berhenti pada kata-kata, melainkan diwujudkan dalam perbuatan dan doa yang terus mengalir.

Di zaman modern, saat sebagian orang sibuk mengejar karier dan harta, banyak yang melupakan ibu di rumahnya sendiri. Ia yang dulu selalu hadir di setiap langkah kita, kini justru ditinggalkan sendirian dalam sunyi. Maka, Hari Ibu adalah momen untuk mengingat kembali kewajiban spiritual dan moral terhadapnya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menjadi dasar yang tak terbantahkan bahwa mencari ridha ibu adalah mencari ridha Allah. Maka, Mengapa Hari Ibu Begitu Spesial? Karena pada hari itu, hati manusia diingatkan untuk mencari surga yang paling dekat — yaitu senyuman seorang ibu.

Bagikan:

Related Post